Ujian Praktek Komputer Kelas XII

Ujian Praktek TIK dilaksanakan sebagai penilaian Psikomotor (Praktek) yang mutlak harus diikuti siswa tanpa kecuali, yaitu semua siswa Kelas XII. Dengan mengerjakan di luar jam Sekolah diharapkan adanya keleluasaan siswa untuk menguasai materi sambil mengerjakan tugas. Selain itu untuk efisiensi dan efektifitas pemakaian jam praktek sesuai yang telah dijadwalkan sekolah.

Soal Uji Praktek Komputer Kelas XII, dapat di download di sini

Diskusi Cinta

Cinta … sejuta rasanya

Banyak cara mengungkapkannya, bahkan diam juga bisa sebagai tanda cinta lalu berjanji tuk saling setia. Ada yang berpendapat “biarkan cinta tumbuh di dalam dada tuk membakar semangat nan menggelora”. Lalu bagimana cinta menjadi patah, bahkan brubah menjadi benci, cintakah itu?

Terkadang cinta hanya bisa dirasa, tak bisa dicari kenapa dan bagaimana karna cinta memang hak siapa saja, tak memandang si kaya dan si buruk rupa, semua memiliki dan merasakan cinta.

Baca lebih lanjut

Oleh-oleh Lebaran : Berkunjung ke Candi Sukuh

Candi-candi pada umumnya merupakan peninggalan jaman Hindu-Buhda dimana candi merupakan tempat peribadatan sehingga dianggap suci dan sacral. Candi Sukuh merupakan salah satu situs sejarah yang terdapat di Desa Sukuh Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar. Dalam candi terdapat wangsalan “gajah wiku anahut buntut” yang menunjukkan bahwa candi Sukuh dibuat pada tahun 1378 saka atau 1456 m. Di Candi Sukuh terdapat tiga teras yang menggambarkan /melambangkan pada suatu tahapan kehidupan yang diakhiri pada satu titik akhir yaitu surga (puncak candi).  Baca lebih lanjut

Oleh-oleh Lebaran : Berkunjung ke Candi Cetho

Candi cetho

Oleh-oleh selalu dikonotasikan dengan makanan, souvenir atau benda-benda berujud lainnya. Oleh-olehku disini lain dari yang lain yaitu photho dengan sekelumit cerita didalamnya. Dengan ini saya harapkan anak-anak akan menjadi tertarik dengan lingkungan yang ada di sekitarnya terutama tempat wisata maupun situs-situs sejarah yang meski dijaga kelestariannya.

Seperti situs-situs atau peninggalan lainnya Candi di Jawa memiliki nama yang sama dengan desa dimana candi itu berada begitu juga jandi Cetho, candi ini terletak dilereng Gunung Lawu sisi sebelah Utara yang terletak 1400 dp al, tepatnya di Desa Cetho Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar. Dengan perjalanan yang sulit dan sesekali meski turun dari sepeda karena begitu tanjakan tajam hingga tidak mampu lagi membawa beban, akhirnya perjalanan pun sampai pada tempat yang dituju.

Baca lebih lanjut

Remidi kelas X

Bagi siswa kelas X yang harus remidi pada materi pelajaran BAB I, berikut adalah tugas sebagai pengganti ulangan tulis seperti yang telah ditempuh pada minggu yang lalu.

Buatlah ringkasan materi BAB I dengan diketik komputer, dengan syarat ketentuan pengaturan pengetikan sebagai berikut :

Margin kertas: Atas 2,5 cm margin Kiri 3 cm margin Kanan 2 cm dan margin bawah 2,5 cm

Jarak spasi 1,5

ukuran kertas A4

bisa dikirim melalui email tugas_tikipa@yahoo.co.id sebagai attachment atau dicetak lengkap dengan cover yang bagus paling lambat tgl 10 Oktober 2009

Faktor-Faktor Siswa Menjadi Malas

By. PARWATI
Malas atau enggan sudah barang tentu telah dimengerti dan dialami oleh semua orang mulai dari usia anak-anak, dewasa sampai orang tua. Adapun malas banyak kriterianya, mulai dari malas mengurus dirinya sendiri seperti makan, minum, mandi atau bahkan banyak hal yang terkadang membawa dampak positif bagi kesehatan jiwa maupun raganya pun malas untuk dilakoninya. Belum lagi malas untuk melakukan segala sesuatu yang dirasa berat untuk dijalaninya karena bertolak belakang dengan hati nuraninya ataupun sebab lain yang terkadang yang bersangkutan tidak tau mengapa menjadi malas. Dalam hal ini saya akan mengulas tentang malas yang menjadikan penyakit bagi kalangan pelajar yaitu “malas belajar”. 
Sebagai guru yang erat dan selalu kontak dengan murid sangat merasakan betapa kemalasan siswa-siswinya sangatlah memprihatinkan. Bagaimana tidak, mengadakan ulangan harian dengan tipe soal yang diambil dari materi yang sudah disampaikan di kelas atau bahkan sudah terdapat di buku LKS, namun dari hasil ulangan tetap tidaklah memuaskan, bahkan tidak jarang membuat guru merasa serba salah karena harus memikirkan bentuk soal yang bagaimana yang bisa membuat atau memberi kepuasan karena hasil ulangan bisa dikatakan baik semua. Hasil ulangan harian anak-anak dengan nilai baik /memuaskan sangatlah efisien waktu karena tidak perlu diadakan remidi, remidi yang berulang-ulang saya kira tidak efektif. 
Keberhasilan dari proses belajar mengajar dapat dilihat dari segi kognitif maupun psikomotor. Untuk mendapatkan nilai kognitif dapat dicapai dari hasil ulangan harian atau ulangan bersama yang tercermin dalam pengukuran deretan angka, dewasa ini dibuat plafon untuk menentukan penilaian melalui Standar Ketuntasan Minimal (SKM) untuk menentukan si anak harus remidi atau tidak. 
Apabila nilai ada dibawah SKM maka si anak bisa dikatakan belum tuntas, sehingga perlu diadakan remidi sampai si anak benar-benar tuntas. Adanya kegiatan remidi ini ternyata tidak menjadikan mendorong untuk belajar lebih giat, hal ini disebabkan karena sikap anak yang malas belajar. Berikut adalah sekelumit penyebab anak-anak malas untuk belajar :
1. Penyebab dari dalam diri pribadi siswa
Siswa sebenarnya menyadari akan tugas yang melekat pada dirinya yaitu belajar, namun sering ditinggalkan karena sebab-sebab seperti berikut ini :
a. Kurangnya pemahaman siswa akan pentingnya belajar
Banyak anak yang harus dikejar-kejar untuk belajar, hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman akan pentingnya belajar, jadi belajar adalah momok bukan merupakan tuntutan. Padahal melalui kegiatan belajar banyak terdapat ilmu-ilmu yang sembunyi disela-sela uraian kata maupun rumus yang senantiasa berguna bagi kepentingan kehidupannya.
b. Banyaknya aktifitas-aktifitas lain yang lebih menyenangkan
Dewasa ini hiburan televisi banyak sekali yang tersusun dalam susunan acara hingga pemirsa menjadi terikat dan akan merasa rugi apabila tidak meliput acaranya tak terkecuali pelajar. Hiburan lainnya seperti ngeband, main teater atau aktifitas olah raga juga membuat anak terlena akan kewajiban untuk belajar.
c. Adanya “HP SYNDROM”
Seiring dengan perkembangan dunia telekomunikasi membawa dampak pula pada pelajar yang memiliki HP. Saya menyebutkan syndrome HP karena setelah berbincang-bincang dengan banyak siswa yang membawa HP, mereka menyatakan lebih mengutamakan ringtone HP jika dibanding dengan belajar artinya ia selalu bersembunyi-sembunyi untuk segera membuka HP hanya sekedar untuk tau isi dari SMS yang masuk atau sekedar mencari tau si penelpon lalu mematikannya karena masih mengikuti pelajaran dikelas, belum lagi tidak jarang anak-anak berlomba-lomba baik accessories, merk, model, tipe HP yang dimilikinya. HP sebagai sarana komunikasi dengan teman-temannya baik berupa SMS maupun percakapan langsung, main game atau musik, sebenarnya sudah disadari oleh siswa bahwa dari segi manfaatnya HP kurang memberi manfaat karena jika temannya SMS atau sebaliknya dan tidak dibalas maka sudah barang tentu marah dan kecewa, namun disisi lain susah untuk menjauhkan dirinya dari HP. Sehingga tidak jarang orang tua yang menjadi resah akan kebiasaan anaknya yang suka bercakap-cakap via HP dengan temannya yang biasanya dilakukan pada malam hari atau siang hari sepulang dari sekolah, belum lagi SMS yang senantiasa menyita waktu dan perhatiannya. 
2. Penyebab dari luar diri pribadi siswa siswa
a. Lemahnya kontrol sekolah
Penilaian/evaluasi adalah merupakan salah satu dari rangakain kegiatan pembelajaran, melalui penilaian ini dapat dijadikan oleh pihak sekolah untuk menentukan kriteria naik atau tidak naik kelas. Dengan lemahnya kontrol sekolah disini artinya begitu lenturnya peraturan yang menjadikan syarat-syarat kenaikan kelas pada saat akhir tahun pembelajaran sehingga siswa yang seharusnya tidak naik akhirnya menjadi naik setelah ada tarik ulur dan pencapaian kata sepakat dengan berbagai banyak hal yang telah dipertimbangkan. Disisi lain kontrol sekolah pada saat diadakan seremonial ulangan bersama sehingga membuka kemungkinan untuk melakukan kegiatan curang seperti “ngepek/nyontek, bertanya pada temannya atau bentuk curang lain” sehingga hasil belajar tidak bisa lagi menjadi tolak ukur keberhasilan proses pembelajaran karena nilai tidak mencerminkan nilai murni dari hasil belajar tiap-tiap siswa.
b. Kondisi di dalam rumah
Kebiasaan anggota keluarga di rumah sangat memegang peranan pada penciptaan iklim belajar siswa. Keluarga dengan anggota yang banyak maka situasi akan ramai, gaduh dan lebih parah lagi kurangnya perhatian atau kontrol orang tua akan kegiatan belajar putra/putrinya secara tidak langsung sudah barang tentu akan memperburuk niat anak untuk belajar. Walaupun banyak anak dengan keluarga yang besar namun tetap terkontrol kegiatan belajarnya karena memang sudah tertanam pada diri anak akan pentingnya belajar, sehingga dalam situasi apapun belajar adalah sudah menjadi pilihannya.
c. Kondisi di luar rumah / masyarakat lingkungannya
Banyak kegiatan yang bersifat kemasyarakat yang kurang mendukung penciptaan situasi belajar, misalnya budaya rewang (kerja untuk membantu orang lain/tetangga/ saudara yang baru memiliki suatu acara hajatan), budaya rempon /ngerumpi, ataupun kegiatan lain yang bisa mengganggu kegiatan belajar siswa karena waktunya yang kurang tepat. Selain itu adanya polemik bahwa lulus dengan nilai yang bagus belum tentu akan memudahkan dalam mendapatkan kerja sehingga mengendorkan minat belajar anak.
d. Topografi Wilayah
Walaupun kecil namun faktor topografi wilayah sangat membawa peranan yang sangat penting, hal ini disebabkan karena topografi wilayah sangat berpengaruh pada mata pencaharian masyarakat. Peserta didik yang tinggal di wilayah pesisir rata-rata kurang mengutamakan pendidikan, hal ini disebabkan karena kebanyakan dari orang tua berprofesi sebagai nelayan yang tidak mencapai tingkat pendidikan yang mencukupi bahkan tidak jarang pula yang buta huruf. Bahkan ironisnya seorang juragan kapal bisa kaya dan terpandang bukan karena prestasi akademiknya namun keuletannya dalam mengelola kapal-kapal yang dimilikinya. Disisi lain tanpa kecakapan intelektual bagi siapa saja yang mempunyai minat untuk melaut dapat bergabung pada juragan kapal untuk pergi melaut (mencari ikan) dan tentu saja dengan imbalan yang lebih dari cukup tanpa melampirkan ijazah atau surat lamaran kerja, lembar biodata dan lain-lain.
Begitulah sekelumit gambaran mengapa dewasa ini minat belajar siswa-siswi kian memburuk, sehingga selaku orang tua harus benar-benar bijaksana dalam melakukan pengawasan putra/putrinya, begitu juga guru, harus senantiasa memberi motifasi pada para peserta didik untuk selalu rajin belajar.

Kegiatan akhir kelas XI-IPA 1


Kali ini di kelas tampak guyup lagi (dapat dilihat disini), senang aku melihatnya meski ada yang malas tapi tetap ikut serta walau duduk-duduk menemani ngobrol temannya yang mempersiapkan pernak-pernik untuk bazaar, kegaiatan bazaar diadakan untuk memperingati ultah sekolah tercinta kami. Anak-anak mengambil tema “Love Music”, Q gak tau kenapa mengambil tema itu, tapi selaku wali kelas sepanjang pilihannya bagus n Q juga nyadari hidup tanpa music seperti masak tanpa garam, bagaimana tidak dengan music bisa memotifasi, bisa merubah perasaan sentimental seseorang bahkan music klasik dipercaya dapat meningkatkan kecerdasan janin yang masih didalam kandungan. Jadi cerdas juga pilihan anak XI-IPA1 pikirku….
Untuk menyelaraskan dengan tema, so pasti pernak-perniknya ada yang berupa not-not balok yang dibuat dari gabus yang dicat warna-warni, ada juga alat music gitar yang menghiasi dekorasi tempat bazaar, yah dengan kerja sama dan bagi tugas, tidaklah sia-sia karena kelas XI IPA1 menjadi juara 1, walau itu bukan tujuan utama tapi tetaplah memberikan kepuasan tersendiri dan uang hadiah itu untuk apa?, selaku wali kelas hanya mampu menasehati untuk dipakai bersama-sama demi kekompakan di kelas XII dan so pasti demi kesuksesan semuanya….. so the last but not the lease GOD LUCK XII-IPA1 be success and be the best.
We are the big family of SMAN 1 MUNCAR.