Diskusi Cinta

Cinta … sejuta rasanya

Banyak cara mengungkapkannya, bahkan diam juga bisa sebagai tanda cinta lalu berjanji tuk saling setia. Ada yang berpendapat “biarkan cinta tumbuh di dalam dada tuk membakar semangat nan menggelora”. Lalu bagimana cinta menjadi patah, bahkan brubah menjadi benci, cintakah itu?

Terkadang cinta hanya bisa dirasa, tak bisa dicari kenapa dan bagaimana karna cinta memang hak siapa saja, tak memandang si kaya dan si buruk rupa, semua memiliki dan merasakan cinta.

Oh … indahnya cinta

Bisa terpaut dalam sudut mata, senyum yang terlemparkan atau untaian bunga atau pancaran wajah nan ceria.

Tersenyum sendiri kala aku ingat percakapan dengan anak-2 kelas X-3 dimana aku adalah ibu wali kelasnya, gara-gara si Ratna sudah 4 hari g masuk kelas, sampai-sampai aku bercerita kiat-kiat tuk menikmati cinta tanpa ada yang terluka, trik mencinta dan dicinta, yach itu semua karena aku g mau kehilangan seorang pun siswa kelas X-3 menjadi Droup out karena kehidupan yang indah masih terbentang luas dan menanti di luar sana tuk dicapai dan diraih, dengan belajar dan kerja keras tentunya.

Percintaan di kalangan siswa SMA sudah bukan tabu lagi walau masih banyak yang memeilih mencoblo daripada ribet dengan percintaanya. Hanya saja anak-anak banyak yang belum diperbolehkan orang tuanya alhasil ambil jalan Backstreet alias main petak umpet. Untuk menghadapi permasalahan semacam ini hanya si anak dan orang tua yang harus menyelesaikan dengan cara sharing, apa pasalnya orang tua melarang anaknya pacaran dan disisi lain si anak juga harus menerima dan mengerti apa yang mengakibatkan orang tua melarang tuk pacaran di bangku SMA. Orang tua juga harus memahami perkembangan usia anak dimana pada usia puber ini sudah bisa merasakan mencinta dan dicinta antar lain jenis, jadi apabila si anak memang sudah tidak bisa dilarang-larang lagi tuk tidak pacaran, maka selaku orang tua harus melakukan kontrol, memfasilitasi cara pacaran yang aman yaitu jauh dari gosip dan perilaku yang menyimpang atau apapun yang tidak layak untuk dilakukan pada pasangan yang masih pacaran. Sehingga konflik yang timbul antara anak dan orang tua dapat diminimalkan, sehingga tujuan utama yaitu sebagai penyemangat belajar dapat benar-benar menjadi kenyataan.

Cintaku menjadi patah

luluh lantah ….. sampai negeri entah berantah

Siap pacaran…. harus siap putus lho, kenapa? Pacaran adalah komitmen jalinan cinta antara si cowok ama si cewek. Jadi apabila sudah tidak adanya kecocokan dengan komitmen yang telah disepakati berdua so pasti memilih tuk berjalan sendiri-sendiri saja. Untuk itu diperlukan cara yang baik untuk menyudahi komitmen pacarannya, misalnya menjaga jarak tuk beberapa saat, berdiskusi berdua atau cara lain yang paling tepat dengan karakter pasangannya. Menggandeng cowok/cewek baru tuk menyudahi komitmen pacaran adalah cara yang tidak fair, karena akan menjadikan luka yang teramat mendalam bahkan akan bisa berdampak pada orang lain, misalnya balas dendam dengan pasangan barunya atau menjadikan sikap antipati terhadap lawan jenisnya karena trauma diputus cinta.

Buat anak-anaku : cinta adalah hak siapa saja tapi harus ada pada saat, waktu dan tempat yang tepat supaya cinta berjalan indah adanya.

1 Komentar

  1. tentang sesorang yang pernah ku cintai sekitar 2 tahun lalu hingga sekarang… andai bukan jarak dan perpisahan yang kini memisahkan mungkin kami masih bersama. aku tlah coba tuk lupakan tapi sulit dan tak bisa walaupun aku telah berusaha,, lalu apa yang harus aku lakukan?


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s